Rabu, 04 Maret 2015



TEKNOLOGI PRODUKSI TAMAN HORTIKULTURA I
“TANAMAN HIAS UNGGULAN INDONESIA”
KRISAN


OLEH

NISA IRLANDA                               1310211181





PROGRAMSTUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015


KRISAN
Sejarah krisan
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu & pink) & C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, & tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina & Jepang menyebar ke kawasan Eropa & Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisanmodern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.
BOTANI KRISAN
a.                   TAKSONOMI
Kingdom                     : Plantae
Divisio                         : Magnoliophyta
Sub-Divisio                 : Magnoliopsida
Kelas                           : Asterales
Ordo                            : Asterales
Famili                          : Asteraceae
Genus                          : Chrysanthenum
Spesies                        : Chrysanthemum morifolium
b.                  Morfologi
Tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5 cm.
Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang, serta termasuk bunga lengkap. Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil).
Krisan sebagai bunga potong, dibudidayakan dengan dua cara sesuai dengan permintaan pasar yaitu tipe standar dan tipe spray. Tipe standar (Disbudded inflorescens) hanya memiliki satu tunas bunga yaitu tunas terminal yang dipelihara pada satu batang. Tunas bunga lateral dibuang sehingga dihasilkan satu bunga dengan ukuran besar. Tipe spray (Spray inflorescens) merupakan tipe dengan seluruh tunas bunga lateral dibiarkan berkembang, tetapi bunga yang pertama berkembang dibuang agar lebih banyak tunas lateral yang tumbuh dan berukuran kecil. Bunga krisan terdiri dari dari beberapa varietas di antaranya White Fiji, Yellow Fiji, Holday, Alouis, Astro, Snowdon White, Cassandra, dan Pingpong. Bunga krisan spray terdiri dari varietas Puma,Yellow Puma, White Regent, Town talk, Heidi Yellow, Heidi White, Zroland, Pompon, Soraya, Wendi, Caymano, dan Casablanca

Ciri-ciri morfologi tanaman krisan sebagai berikut:
A. Batang
Batang tanaman krisan tumbuk tegak, berstruktur lunak dan berwarna hijau. Bila dibiarkan tumbuh terus, batang menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecokelat-cokelatan.
B. Akar
Perakaran tanaman krisan dapat menyebar kesemua arah pada kedalaman 30 cm – 40 cm. Akarnya mudah mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungan yang kurang baik, hal tersebut dikarenakan akar tanaman krisan berjenis serabut.
C. Bunga
Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai (tandan) berukuran pendek sampai panjang. Bunga krisan digolongkan dalam dua jenis yaitu jenis spray dan standar. Krisan jenis spray dalam satu tangkai bunga terdapat 10 sampai 20 kumtum bunga berukuran kecil. Sedangkan jenis standar pada satu tangkai bunga hanya terdapat satu kuntum bunga berukuran besar.

Selain  itu kalangan floriskulturis juga membedakan bentuk  bunga krisan dalam lima macam (golongan), yaitu bentuk tunggal,  anemone, pompon, dekoratif dan bunga besar.
Ciri-ciri kelima bentuk bunga krisan tersebut adalah:
a.                   Tunggal
Karakteristik bunga tunggal adalah pada tiap tangkai terdapat 1 kumtum bunga, piringan dasar bunga sempit, dan susunan mahkota bunga hanya satu lapis.
b.                  Anemone
Bentuk bunga anemone mirip dengan bunga tunggal, tetapi piringan dasar bunganya lebar dan tebal.
c.                   Pompon
Bentuk bunga bulat seperti bola, mahkota bunga menyebar kesemua arah, dan piringan dasar bunganya tidak tampak.
d.                  Dekoratif
Bunga berbentuk bulat seperti pompon, tetapi mahkota bunganya bertumpuk rapat, ditengah pendek dan bagian tepi memanjang.
e.                   Bunga Besar
Karakteristiknya adalah pada tiap tangkai terdapat satu kuntum bunga, berukuran besar dengan diameter lebih dari 10 cm. Piringan dasar tidak tampak, mahkota bunganya memiliki banyak variasi, antara lain melekuk ke dalam atau ke luar, pipih, panjang, bentuk sendok dan lain-lain.

D. Daun
Daun pada tanaman krisan merupakan ciri khas dari tanaman ini.Bentuk daun tanaman krisan yaitu bagian tepi bercelah atau bergerigi, tersusun berselang-seling pada cabang atau batang.
E. Buah dan Biji
Buah yang dihasilkan dari proses penyerbukan berisi banyak biji. Biji digunakan untuk  perbanyakan tanaman secara generatif. Biji krisan berukuran kecil dan berwarna cokelat sampai hitam.

BUDIDAYA TANAMAN KRISAN
Krisan dapat diperbanyak secara vegetatif maupun secara generatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan stek pucuk, sedangkan perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji.Stek yang telah diambil dari tanaman induk terlebih dahulu diakarkan pada tempat pengakaran dalam kondisi haripanjang (pemberian lampu selama 4 jam pada malam hari). Setelah 14-20 hari dari tempat pengakaran stek sudah dapat ditanam diareal tanamatau pot. Untuk membudidayakan krisan potong diperlukan rumahlindung, berupa rumah plastik yang bertujuan untuk menghindaritanaman dari curahan hujan secara langsung, yang dapat memicuserangan hama dan penyakit dan kerusakan fisik oleh air hujan
Selesai penanaman dilanjutkan dengan penyiraman tanaman,yang disesuaikan dengan kondisi tanah. Penyiraman harus merata dansampai basah penuh, dilakukan pagi dan sore hari.
Macam macam budi daya bunga krisan
A.     Stek
Langkah-langkah untuk membuat bibit bunga krisan dari stek batang, yang pertama adalah mempersiapkan alat dan bahan. Alatnya antara lain: nampan plasik yang memiliki ukuran 30 x 20 x 3 cm, sekop kecil, pisau tajam/ cutter, sprayer. Bahannya antara lain; tanah, tumbuhan bunga krisan yang telah dewasa, , hormon perangsang akar (rootone), pupuk kandang, pupuk kompos, dan air. Langkah kedua adalah membuat media tanamnya. Tanah, pupuk kandang, pupuk kompos dicampur secara dengan perbandingan 1:1:1 dan diletakkan di nampan lalu diratakan. Buat lubang di media tanam dengan jarak 2 cm. Semprot dengan air menggunakan sprayer agar tanah menjadi lembab. Langkah ketiga yaitu memotong batang bunga krisan dengan ukuran 6-8 cm menggunakan pisau atau cutter yang tajam, lalu olesi dengan rootone, kemudian tanam ke media tanam yang telah disiapkan. Bibit yang telah ditanam diletakkan pada tempat yang teduh atau tidak terkena cahaya matahari langsung.

      Media tumbuh perakaran stek.
1.       Agar pertumbuhan akar stek tidak terhambat, pilihlah media untuk perakaran stek yang mempunyai sifat menahan air yang tinggi, antara lain : arang sekam, sekam, atau pasir.
2.      Sterilkan dengan uap panas 800c selama 4 jam dan kering anginkan selama 2 hari.
3.      Letakkan media tersebut pada bak-bak pengakaran yang lebamya 80 cm dan ratakan. Kemudian basahilah dengan air atau gunakan larutan pestisida dosis rendah untuk mencegah serangan penyakit pada stek selama proses pengakaran.
4.      Ambil pucuk tunas aksiler dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal serta mempunyai 5 - 7 daun sempurna. Agar kualitas stek yang dihasilkan terjaga, pengambilan stek sebaiknya dari tanaman induk untuk produksi stek bukan tanaman produksi bunga.
5.      Potonglah tunas tersebut dengan menggunakan pisau yang steril. Sisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman induk. Kemudian letakkan pada wadah, semprot dengan larutan fungisida dan bakterisida. - Celupkan pangkal tangkai stek pucuk tersebut pada zat pengatur tumbuh, tancapkan pada media pengakaran stek.
6.      Setelah +14 hari, cabutlah stek pucuk tersebut secara perlahan-lahan supaya akar tidak rusak dan stek pucuk siap ditanam dirumah lindung.

Selama pemeliharaan, penyiraman menggunakan sprayer dilakukan sebanyak dua kali yaitu siang hari dan sore hari. Dalam 2 minggu, bibit akan tumbuh secara normal, dan akan mengalami pembungaan sekitar 4 minggu setelah dewasa. Untuk merangsang pembungaan dapat diberi pupuk yang mengandung banyak kalium dan juga dapat dirangsang dengan penyinaran rutin pada malam hari. Setelah bunga mengeluarkan kuncup, bunga krisan dapat dipasarkan.

B.  Hidroponik
            Teknik hidroponik yaitu suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.
            Dalam hidroponik tidak lagi digunakan tanah, hanya dibutuhkan air yang ditambah dengan nutrien atau pupuk sebagai sumber makanan bagi tanaman. Media untuk tanaman hidroponik bermacam-macam, antara lain, arang sekam, pasir, zeolit, gambut, dan sabut kelapa. Masing-masing medium memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Irigasi atau pengairan sangat penting dalam pertumbuhan tanamanam. Secara garis besar, irigasi dalam sistem hidroponik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sistem air menggenang dan sistem air mengalir. Dalam sistem air menggenang, air atau larutan yang diberikan ditampung dalam wadah atau pot sehingga tergenang. Sedangkan pada sistem air mengalir, air dialirkan terus-menerus sehingga tidak ada yang tergenang.
            Sistem penanaman krisan secara hidroponik memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem penanaman di tanah, antara lain:
(1) dapat dilakukan pada lahan sempit;
(2) dapat dilakukan pada berbagai kondisi lahan;
(3) tanaman lebih jarang terserang hama dan penyakit;
(4) pertumbuhan tanaman dapat lebih terkontrol;
(5) hasilnya bersih karena media yang digunakan bukan tanah;
(6) pemberian pupuk lebih efisien dn menghemat penggunaan tenaga kerja;
(7) dapat menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi sehingga nilai jual lebih tinggi.
Hidroponik sangat cocok dikembangkan  untuk tanaman hias, tetaapi hidroponik juga berkembang untuk  tanaman sayuran dan buah-buahan. Jenis bunga yang dapat dibudidayakan secara hidroponik antara lain krisan, mawar, anggrek berbagai jenis adenium.

BUDIDAYA KRISAN POT
Media Tanam:
Pertimbangan khusus dalam menentukan media tanam adalah mudah didapat, harga relatif murah, ringan dan harus memiliki sifat-sifat fisik dan kimia yang bisa mendukung pertumbuhan akar dan serapan hara secara optimal. Sifat fisik yang penting adalah media harus ringan, gembur dan memiliki aerasi cukup baik.
Sedangkan sifat kimianya adalah derajat keasaman media netral dengan pH 5.52-6.7, memiliki Eectric Conductivity (EC) rendah sehingga tidak ada kekhawatiran keracunan unsur tertentu. Bahan yang banyak digunakan adalah serbuk sabut kelapa (cocopeat) dan arang sekam. Gambut memiliki daya pegang air cukup tinggi, dan partikel-partikelnya banyak membentuk gumpalan-gumpalan kecil sehingga membentuk rongga-rongga udara. Untuk mengurangi rongga ini perlu ditambahkan bahan lain yang bisa mengisinya seperti serbuk sabut kelapa dan sekam bakar. Cocopeat memiliki daya pegang air cukup baik dan tidak membentuk gumpalan antar partikelnya sehingga bisa digunakan untuk mengisi rongga. Komposisi media yang baik untuk krisan pot adalah campuran dari gambut (peat), cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan volume 4:4:1.
Bibit :
Tinggi bibit untuk krisan pot tidak boleh lebih dari 5 cm. bibit yang terlalu tinggi menyebabkan pertunasan yang kurang kompak, tunas yang terbentuk berjauhan sehingga bagian bawah tanaman menjadi kurang rimbun.
Jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot bisa bervariasi. Untuk ukuran pot 14 -15 cm bisa ditanam 5-6 bibit. Untuk menentukan jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot juga harus mempertimbangkan produktivitas tunas dari jenis yang ditanam.Untuk jenis yang hanya mengeluarkan tunas sedikit, dibutuhkan jumlah bibit agak banyak, sehingga tanaman pot agak rimbun.
Cara penanamannya satu bibit ditanam cepat ditengah pot dengan posisi tegak lurus, kemudian bibit lainnya ditanam dibagian pinggir pot dengan posisi agak condong keluar agar tunas yang dihasikan menyebar keluar sehingga tanaman pot terlihat lebih besar dan rimbun. Berikut adalah gambar penempatan bibit krisan pot
Penyiraman :
Penyiraman tanaman pot bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan alat bantu sistem irigasi. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pertimbangan adalah frekuensi penyiraman, kualitas air, penyiraman tidak kena daun, penyiraman dilakukan sekaligus dengan pupuk. Untuk memenuhi persyaratan penyiraman yang baik, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar hasil penyiraman lebih efisien.
Sistem rendam. Penyiraman dengan merendam sebagian pot ke dalam air setinggi 5-10 cm, selama beberapa menit, secara kapiler air dan pupuk bergerak dari bagian bawah pot ke permukaan atas media, sistem ini mengandalkan daya kapiler media terhadap air yang akan merambat dari bawah ke atas. Pada fase colouring (fase terakhir perkembangan tanaman krisan pot, saat warna bunga mulai muncul) tanaman harus dipindahkan ke tempat khusus dan sistem pengairannya biasanya menggunakan sistem rendam untuk memudahkan panen.
Perendaman Tanaman Krisan.:
Sistem drip. Dengan sistem drip (irigasi tetes) setiap pot disambungkan dengan selang yang mempunyai jarum untuk mengatur keluarnya air dan sebagai jalan tetesan air ke media. Dengan menggunakan sistem drip, pemupukan bisa dimasukkan ke dalam alat irigasi. Pupuk yang digunakan harus yang mudah larut ke dalam air agar lubang drip tidak mudah tersumbat dan pupuk lebih mudah diserap oleh tanaman. Biasanya pada fase short day krisan pot dipindahkan ke tempat lain dan sistem pengairannya menggunakan sistem drip.

Pemupukan.:
Pemilihan komposisi pupuk untuk krisan pot dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya biaya produksi. Contoh pada tabel adalah komposisi pemupukan krisan pot yang digunakan di PT Kebun Ciputri.

Komposisi Pupuk untuk Larutan Pekat
Jenis pupuk
Jumlah (gram)

Stok A (20 liter)


Ca(NO3)2. 4H2O
2.880

KNO3
1.814

Stok B (20 liter)


KNO3
1.476

MnSO4.4H2O
5,76

ZnSO4.7H2O
0,9288

Borak
7,099

Na2MoO4.2H2O
0,269

MgSo4.7H2O
1.364,6

FeSo4.7H2O
85,76

Kristalon hijau
1.754,4



                        Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999).
Bahan pupuk dapat dibuat dari senyawa kimia lainnya sesuai dengan ketersediaan bahan dipasar dan juga dari harga yang lebih ekonomis. Akan tetapi yang terpenting adalah komposisi dari masing-masing unsurnya.
Pada tabel disajikan pedoman untuk komposisi unsur pupuk
Komposisi Unsur Pupuk dalam 1 liter Larutan Pekat
Unsur
Jumlah (gram)
K
38,86
N-Nos
26,26
N-NH2
1,58
P
3,43
Ca
12,23
Mg
4,08
Mn
0,124
Zn
0,032
B
0,049
Cu
0,0263
Mo
0,0066
Fe
0,489
Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999)
Pengaturan Panjang Hari. Krisan pot memiliki fisiologi sama dengan krisan potong, yaitu memiliki respon terhadap fotoperiodisasi. Lama penyinaran yang tepat untuk iklim Indonesia 14-16 jam sehari, sehingga pada daerah tropis paling tidak tanaman krisan perlu tambahan cahaya selama dua jam dengan intensitas cahaya minimal 40 lux bila menggunakan lampu TL dan 70 lux apabila menggunakan lampu pijar. Pemberian cahaya lampu dilakukan sejak awal tanam sampai tunas lateral yang keluar dari ketiak daun, tumbuh sepanjang 2-3 cm. Bila tunas yang keluar sudah cukup, maka tanaman akan masuk fase short day. Supaya bunga mekar secara serempak, ada penanam krisan pot yang melakukan blackout pada malam hari yaitu menutup tanaman dengan plastik hitam atau kain hitam sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar sama sekali tidak mengenai tanaman.
Pinching dan Disbudding. Pinching adalah membuang pucuk terminal dari bibit asal, hal ini dilakukan untuk menghentikan dominasi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas lateral dari ketiak daun. Dari setiap bibit diharapkan mengeluarkan tuns lateral sebanyak 3-4 tunas produktif, sedangkan tunas-tunas yang kecil atau tidak peroduktif harus dibuang, sehingga kualitas tunas yang dipelihara benar-benar bagus. Pinching (Gambar 5. 4.) dilakukan setelah tanaman memiliki lima daun sempurna, dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan kelima, bila daun pertama dihitung dari bawah. Tanaman yang dipinching telah berumur lebih dari 10-14 hari setelah bibit ditanam. Pinching harus dilakukan tepat waktu. Apabila terlambat maka internode dari bibit akan terlalu panjang, akibatnya jarak antar tunas yang akan tumbuh saling berjauhan. Kegiatan Pinching Disbudding adalah pembuangan bakal bunga yang tidak diinginkan sesuai dengan tujuan pembentukan bunga. Disbudding dilakukan setelah bakal bunga yang tidak diharapkan mulai tumbuh dan siap dibuang tanpa mengganggu bakal bunga yang siap untuk dipelihara.
  
 Pemberian Zat pengatur tumbuh (ZPT)
ZPT digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman, merangsang pertumbuhan tanaman atau menekan pertumbuhan tanaman. Pada krisan pot, pemberian ZPT diupayakan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan daun sehingga membentuk tanaman menjadi tanaman pot yang kompak, rimbun dan indah. Salah satu ZPT yang biasa digunakan untuk mempercepat pertunasan adalah Hobsanol. Penyemprotan Hobsanol dilakukan setelah pinching dan seminggu setelah aplikasi yang pertama. Untuk menekan pertumbuhan agar krisan pot tidak terlalu tinggi maka digunakan alar atau cultar.

Pencahayaan
Untuk mendapatkan bunga yang diharapkan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan, maka perlu dilakukan penambahan cahaya pada tanaman. Penambahan cahaya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanamanakan cahaya matahari, untuk memacu pertumbuhan organ vegetatif.Untuk tujuan bunga potong, maka penambahan cahaya selama 4 jam sejak tanam, sampai umur 1 bulan. Setelah sebulan penambahan cahayadihentikan.Teknik meletakan lampuyaitu dengan mengatur setiap titik lampu 3m dengan asumsi jangkauan setiap titik lampu 1,5m. gunakan lampu pijar 75 wattatau lampu mengandung ultra violet 15 watt. Pengaturan nyala lampu untuk penyinaran di malam hari menggunakan timer. Matikan timer setelah tanaman memasuki vase generatif yaitu pada umur tanaman di lapangan 1 bulan dengan tinggi tanaman berkisar 35-45 cm. Jikatinggi tanaman belum tercapai yaitu kurang dari 35-45 cm, maka perlu ditambah waktu penerangan selama 1 minggu.
Hal pentingyang harus dilakukan adalah pemeliharaan tanaman selama fase siap produksi. Pada fase ini umur tanaman 1 bulan, perlu dilakukan penambahan pupuk. Penambahan pupuk disesuaikan keadaan tanaman, jika pertumbuhan baik tidak perlu pemupukan, tapi bila kurang baik disarankan menggunakan pupuk Growmore Pospat tinggi.Jika ada gulma, maka lakukan penyiangan gulma disekitar tanaman. Setelah umur 60 hari setelah tanam, harus dilakukan pinching (membuang tunas samping untuk bunga krisan tujuan standart) dan tipesprey lakukan
toping (membuang bunga pertama).

Aplikasi Pupuk Susulan
Setelah tanaman memasuki vase generatif, yaitu tanaman telahberumur 30 hari, maka perlu diaplikasikan pupuk NPK dengan dosis 50gram per meter persegi, dengan cara pupuk dimasukkan pada larikanantar barisan tanaman bersih.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Kualitas krisan pot sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman, sehingga pemeliharaan tanaman mulai dari tanam sampai siap untuk dipasarkan harus dilakukan secara cermat. Untuk mendapatkan kualitas tanaman pot yang prima maka pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif. Adapun hama dan penyakit tanaman yang banyak menyerang krisan pot adalah sama dengan krisan potong yaitu pengorok daun, thrips, aphids, ulat , dan karat putih. Untuk dapat menanggulangi hama, penyakit dan gulma yang mengganggu tanaman, secara garis besar dapat ditempuh dengan dua cara yaitu: dengan cara preventif dan kuratif.
·         Cara preventif yaitu tindakan yang dilakukan sebelum tanaman diserang hama, penyakit dan gulma. Diantaranya yaitudengan :
a)  Pengolahan tanah sempurna
b) Menanam kultivaryang resisten
c) Mendesinfeksi bibit/benih dalam larutan kimia
d) Mengadakan rotasi tanam dan
e) Menanam tepat waktunya

·         Cara kuratif yaitu dengan cara biologis dan cara kimia.

PEMASARAN

            Permintaan akan bunga krisan semakin meningkat, Bunga krisan tidak hanya diminati konsumen local namun juga sangat diminati di manca Negara. Pada umumnya konsumen lebih menyukai warna merah, putih dan kuning, sebagai warna dasar krisan.
            Peluang inilah yang seharusnya bisa dimanfaatkan dan dikembangkan. Salah satu upaya yang tepat untuk mengembangkan bunga krisan adalah dengan system hidroponik.
            Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara).

TAHAPAN PANEN DAN PASCA PANEN
A.    Pemanenan
Pemanenan tanaman krisan pot tentunya dilakukan bersama-sama dengan medianya. Beberapa faktor yang menjadi kriteria kualitas tanaman pot adalah sebagai berikut.
1.      Tajuk
Batang tanaman tidak terlalu tinggi, sekitar 20-25 cm. Bentuk tajuk tumbuh ke samping pot, sehingga bila dilihat dari bagian atas, tanaman memiliki diameter lebih dari 20 cm; semakin lebar diameter tajuk dengan batang yang kuat akan semakin baik.
2.      Daun
Warna daun hijau segar dan bersih dari residu pupuk daun dan pestisida. Bentuk daun normal dan tidak cacat, bebas dari serangan hama penyakit. Daun tumbuh lebat sehingga terlihat rimbun.
3.      Bunga
Warna bunga cerah dan tidak pudar. Semua bunga dalam satu pot tumbuh normal dan bebas hama penyakit. Bunga mekar serempak, kompak, dan tinggi bunga rata.

Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari, di saat belum terik matahari dan aktivitas asimilasi belum maksimal sehingga saat tersebut performansi bunga masih segar. Bunga yang dipotong pagi hari biasanya lebih tahan lama dan mempunyai umur simpan serta kesegaran yang lebih baik.
Dalam keadaan tertentu, panen bunga juga bisa dilakukan pada sore hari. Akan tetapi bunga yang telah dipotong sebaiknya diperlakukan secara khusus yaitu Pangkal tangkai bunga harus direndam di dalam air yang dicampur dengan larutan gula, dengan pH air 3 – 5. 9 Pemanenan umumnya dilakukan secara manual, dengan bantuan gunting atau pisau tajam. Bila pisau atau gunting untuk panen bunga tidak tajam, akan mengkibatkan batang yang ditinggalkan memar sehingga jaringannya rusak dan mudah kena penyakit. Gunting atau pisau yang tidak steril juga mempunyai efek mengundang penyakit, maka sterilisasi gunting atau pisau dengan alkohol atau klorin akan lebih baik. Hasil pemanenan bunga tidak boleh diletakkan langsung di tanah, karena kemungkinan akan terkontaminasi dengan organisme pengganggu. Umumnya, pemanenan, grading, dan pengemasan semua dilakukan secara kering, tanpa menggunakan larutan kimia atau air.

B.     Pengumpulan Bunga yang Telah Dipotong
Bunga krisan yang telah dipotong langsung dikumpulkan di dalam wadah (tempat bunga) yang sesuai dengan kebutuhan. Tempat bunga tersebut hendaknya diletakkan di suatu tempat yang teduh dan aman (tidak terkena sinar matahari langsung), terhindar dari percikan air atau kotoran lainnya, sehingga bunga terjaga dari kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bunga. Bunga hasil panen harus langsung ditempatkan ke dalam ember yang sudah berisi air untuk merendam pangkal tangkai bunga, karena bunga-bunga ini cepat layu bila tidak segera diberi air setelah dipanen.

C.     Pengangkutan ke Tempat Sortasi
Setelah selesai dikumpulkan, bunga diangkut ke tempat sortasi untuk disortir dan diseleksi. Pengangkutan bunga harus dilakukan secara hati-hati dan dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu banyak), sehingga bunga terhindar dari resiko kerusakan ataupun patah. Di tempat sortasi, bila waktu untuk melakukan sortir bunga masih lama, sebaiknya pangkal tangkai bunga direndam dulu di dalam bak/ember berisi air bersih agar bunga tidak cepat layu.
D.    S o r t a s i
Bunga hasil panen diletakkan di atas meja, dipisahkan menurut verietas. Bunga diperiksa / diteliti satu persatu untuk melihat keadaan bunganya, tingkat kemekaran bunga, keadaan tangkai bunga yang meliputi panjang- pendeknya, lurus bengkoknya, besar-kecilnya, dan tegar lemasnya (vigor), berat-ringannya, serta kebersihan tanaman.

E.     Pengikatan / Pengelompokan Bunga (Bunching)
Pada umumnya bunga yang telah disortir dilakukan pengikatan / pengelompokan. Bunga yang telah diseleksi dan ditentukan kriteria pengkelasannya, diikat dengan menggunakan tali atau karet menurut aturan jumlahnya. Pengikatan bunga tidak boleh terlalu ketat, karena dapat merusak tangkai bunga, yang mengakibatkan tangkai bunga dapat tertekan atau luka.

F.      Pembungkusan
Setelah diikat sesuai dengan jumlahnya, bunga harus segera dibungkus dengan kertas atau plastik pembungkus. Pembungkusan bertujuan untuk menjaga agar bunga terhindar dari kerusakan sehingga kualitas bunga tetap terjaga. Bunga potong krisan biasanya dibungkus dengan kertas pembungkus bunga yang sudah dibentuk (digunting) melengkung pada salah satu sisi panjangnya, dan dapat membentuk lingkaran yang rata pada sisi bagian atas, sehingga bungkusan bunga terlihat rapi.

G.    Perendaman dengan Larutan Sebagai Pengawet
Pengawetan bertujuan untuk memperpanjang kesegaran pada bunga potong. Tanpa pengawetan, kehilangan produksi akibat layu dan faktor lainnya bisa mencapai 30%-60%. Larutan pengawet berfungsi untuk memperpanjang umur bunga potong dan mengurangi kerusakan bunga selama penanganan pasca panen, sehingga nilai ekonominya menjadi lebih tinggi.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengawetan, antara lain:
1)      Menambah bahan makanan; seperti glukosa, sukrosa dan galaktosa berfungi untuk membantu proses pemekaran bunga setelah bunga dipotong. Dosis yang disarankan adalah 1%-12% gula per liter air bersih (10- 120 gram gula dalam setiap 1 liter air bersih).
2)      Menambah keasaman air; pada pH 3 - 5 bunga dapat menyerap air secara maksimum. Penyerapan air sangat penting untuk menggantikan air yang hilang akibat penguapan. Jika tidak terdapat air maka bunga dan daun akan cepat layu. Untuk keperluan tersebut, dapat digunakan: asam sitrat dengan konsentrasi 200-600 mg/lt air, asam benzoat dengan konsentrasi 200-600 mg/lt air. Asam sitrat dan asam benzoat juga mempunyai sifat antibiotik yang dapat mengurangi perkembangbiakan bakteri. Reid (1992) juga menyatakan bahwa larutan asam dengan pH 3,5 selain mempercepat penyerapan juga dapat menghambat tumbuhnya mikroba, sehingga kesegaran bunga potong dapat dipertahankan.
3)      Menambah bahan antibiotik, air yang digunakan untuk merendam tanaman biasanya tidak steril sehingga perlu diberikan antibiotik untuk menghambat perkembangan mikroorganisme. Mikroorganisme seperti bakteri dan fungi akan menyumbat jaringan pada batang sehingga air tidak dapat diserap oleh bunga dan menyebabkan kelayuan. Mikroorganisme juga merupakan salah satu penyebab timbulnya gas ethylene yang dapat menyebabkan pelayuan bunga. Bahan-bahan pengawet yang umum digunakan yaitu Physan-20 (200 ml/liter),  AgNO3 (50 mg/liter), Perak tiosulfat (50-100 mg/liter), dan Sodium hipoklorit (4 ppm).
4)      Menambah zat pengawet, digunakan pada perlakuan conditioning, pulsing, pembukaan kuncup dan holding. Secara umum pada jenis bunga tertentu, semakin lama perlakuan maka konsentrasi yang digunakan lebih rendah.

Oleh karena itu konsentrasi yang tinggi digunakan untuk pulsing, konsentrasi sedang untuk pembukaan kuncup, dan konsentrasi yang rendah untuk larutan holding (Halevy dan Mayak, 1979).
       I.            Conditioning : Bunga yang layu (akibat penyimpanan kering) dapat direhidrasi (diberi air kembali). Caranya dengan memotong pangkal tangkai bunga sekitar 1-2 cm, kemudian dicelupkan ke dalam air bersih.
    II.            Pulsing dan Holding Solution : Pulsing merupakan perlakuan dalam jangka waktu yang pendek setelah pemanenan, yaitu proses perendaman dalam larutan yang mengandung bahan makanan (glukosa atau sukrosa) dalam jumlah yang tinggi dan antioksidan. Pulsing dapat memperpanjang umur simpan dan kesegaran bunga potong karena untuk melangsungkan hidupnya bunga potong membutuhkan energi. Energi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari bahan makanan  yang diberikan pada saat pulsing. Sukrosa atau glukosa adalah bahan utama pada larutan pulsing dengan konsentrasi 1%-12%. Bunga dapat juga direndam pada periode pendek pada temperatur hangat (kira-kira 10 menit pada suhu 21°C) atau periode panjang pada temperatur dingin (kira-kira 20 jam pada 2°C). Perendaman dengan larutan nitrat perak (AgNO3) dalam waktu yang singkat adalah yang paling baik bagi beberapa varietas. Larutan pengawet (holding solution) adalah larutan tempat dicelupkannya tangkai bunga sampai terjual atau larutan yang digunakan oleh konsumenuntuk memperpanjang vaselife bunga. Pada umumnya bahan larutan pengawet merupakan sumber energi, bahan penurun pH, biosida, senyawa anti ethylene dan zat pengatur tumbuh. penambahan gula dan asam sitrat berperan dalam menunda kelayuan. Asam sitrat sering digunakan pada larutan holding dengan konsentrasi 50-800 ppm. Penggunaan gula pada larutan pulsing dan holding akan rawan terhadap serangan mikroorganisme karena merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, pada larutan holding dan pulsing sering ditambahkan biosida untuk membunuh dan menghalangi perkembangan bakteri dan jamur.
 III.            Pembukaan Kuncup : Kemekaran kuncup bunga potong krisan dapat dipercepat dengan menggunakan larutan yang mengandung bahan biosida dan gula. Proses ini akan semakin cepat bila didukung dengan kondisi yang memadai yaitu: suhu yang hangat antara 21 - 27°C, kelembaban 60-80% RH, dan intensitas cahaya yang tinggi yakni 100-200 footcandles.
 IV.            Pewarnaan Buatan : Bunga yang berwarna putih dapat dibuat warna warni dengan memberikan pewarna pada bunga. Pewarnaan dilakukan dengan merendam tangkai bunga ke dalam larutan pewarna.
Pewarna yang digunakan adalah pewarna makanan berupa bubuk atau cairan. Cara pembuatan larutan pewarna yaitu:
1) Siapkan pewarna makanan 4 gram, gula 60 gram, dan asam sitrat1 gram,
2) Larutkan pewarna, gula dan asam sitrat dengan air matang / aquades, tepatkan menjadi 1 liter,
4) Aduk larutan sampai semua pewarna, gula dan asam sitrat larut,
5) Larutan pewarna siap digunakan.
H.    Penyimpanan
Penyimpanan dikelompokkan menurut tujuan atau perlakuannya. Penyimpanan menurut tujuannya dibedakan dalam dua kategori menurut lamanya waktu penyimpanan, yaitu penyimpanan sementara dan penyimpanan untuk persediaan (stok). Sedangkan penyimpanan menurut perlakuannya dibedakan dalam dua kategori, yaitu penyimpanan basah dan penyimpanan kering. Penyimpanan sementara dilakukan untuk penyimpanan bunga dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1 hari) bunga bisa disimpan pada suhu ruang dengan merendam pangkal tangkainya di dalam bak berisi air bersih. Penyimpanan untuk persediaan (stok) dilakukan bila bunga disimpan untuk jangka waktu yang agak lama. Untuk penyimpanan kering, bunga harus disimpan di dalam ruang penyimpanan berpendingin (cold storage) dengan temperatur sekitar 2-10°C dan kelembaban udara tinggi sekitar 90%. Lamanya masa penyimpanan bunga dalam cold storage tergantung dari varietas dan tingkat kemekaran bunga. Pada keadaan kuncup dapat disimpan sampai 15 hari dengan suhu 2-4oC, dan sebelumnya mendapatkan perlakuan larutan pembukaan kuncup. Apabila bunga disimpan terlalu lama, maka bunga akan mengalami kerusakan yang dapat dilihat dari perubahan fisik bunga tersebut berupa layu, lembek, busuk dan warna bunga yang pudar. Penyimpanan basah adalah penyimpanan dengan perlakuan perendaman ujung tangkai bunga ke dalam air, dengan harapan bunga akan terus mendapat suplai air untuk memperpanjang umur simpan dan kesegaran. Penyimpanan basah harus dilakukan bila kelembaban udara di lingkungan penyimpanan rendah. Dengan kelembaban udara yang rendah akan banyak terjadi transpirasi atau penguapan air dari bunga yang telah dipotong, akibatnya bunga akan cepat layu. Dengan demikian harus diupayakan kesediaan air dalam wadah tersebut.
I.       Fumigasi
Fumigasi merupakan perlakuan dengan memberikan gas beracun untuk membunuh hama atau serangga pengganggu. Dalam penanganan pasca panen bunga, fumigasi dilakukan apabila di dalam bunga yang akan dikirim masih terdapat hama yang sulit dihilangkan dengan penyemprotan biasa, tapi hama tersebut belum menimbulkan kerusakan pada bunga. Fumigasi hanya dilakukan apabila bunga tersebut akan diekspor, dan negara tujuan ekspor mengharuskan perlakuan fumigasi ini. Kerugian dari umigasi adalah dapat menurunkan umur simpan dan kesegaran bunga yang difumigasi.
J.       Penanganan Eceran
Untuk menjamin kualitas yang maksimum dan menarik minat pembeli, yang terpenting adalah penanganan bunga yang tepat pada saat diterima. Setelah bunga tiba, bunga dipotong pada pangkal batang ± 2 cm dan kemudian bunga ditempatkan segera pada ruang pendingin setelah bungkus dibuka untuk beberapa jam. Jika bunga bersisa di toko beberapa hari, bunga tersebut diletakkan pada ember berisi air dan bahan pengawet.
K.    Pengiriman
Bunga yang sudah dibungkus disusun dengan teratur, dan dilakukan secara hati-hati, dimana isi bunga dalam satu kardus atau kontainer tersebut tidak boleh terlalu padat (sesuai dengan kapasitas kardus tersebut), sehingga bunga dapat tersusun rapi dan terjaga kualitasnya. Biasanya dalam satu kardus berukuran  88 x 40 x 40 cm dapat diisi dengan 30-35 bungkus krisan, dimana isi per bungkus 10 tangkai. Pada bidang-bidang yang berukuran 40 x 40 cm diberi lubang-lubang, sebagai tempat pegangan tangan dan juga untuk ventilasi udara di dalam kardus.
Setelah bunga selesai dimasukkan ke dalam kardus, kardus harus ditutup dan dikuatkan dengan menggunakan lakban sampai kardus menjadi rapi. Namun bila menggunakan kontainer plastik, setelah bunga tersusun penuh cukup ditutup dengan kertas koran agar bunga tidak rusak, bila kontainer diletakkan bertumpuk. Kemudian kardus atau kontainer bunga disusun secara rapi (tiga tingkat), sebelum bunga dimasukkan ke dalam mobil pengangkut. Kardus atau kontainer yang berisi bunga disusun secara rapi di dalam mobil boks berpendingin, sehingga dapat diisi secara maksimal sesuai dengan kapasitas mobil tersebut. Pengiriman bunga ke tempat penjualan dilakukan dengan menggunakan mobil boks berpendingin yang mempunyai pengaturan temperatur. Selama perjalanan, temperatur di dalam mobil boks diusahakan rendah dan stabil pada temperatur sekitar 2-10°C, sehingga kesegaran bunga tetap terjaga dan bunga diterima konsumen dalam keadaan baik.
Setelah sampai di tempat tujuan, kardus atau kontainer plastik tempat bunga diturunkan dari mobil dengan hati-hati agar bunga tidak terkoyak atau rusak. Kemudian kardus atau kontainer bunga diturunkan, bunga dikeluarkan, ujung tangkai bunga dipotong dan dicelupkan sebentar ke ember berisi air hangat, dengan suhu sekitar 30-350 C selama 10 detik, dengan tujuan untuk membuka pori-pori permukaan tangkai bunga, selanjutnya direndam ke dalam air bersih.
Setelah bunga sampai pada pedagang retail atau pedagang penjual, sebelum bunga di pajang konsumen dirumah, segerah setelah bunga tiba di kios atau tempat penjualan bunga-bunga ini dilepas darikemasannya, kemudian periksa dari hama dan penyakit serta kerusakan fisik. Bunga yang baik selanjutnya potong sedikit tangkai bunganya dandirendam dalam air hangat sekitar 380C yang agak asam dengan pH 3.0-4.0 untuk beberapa menit. Akan lebih baik pemotongan tangkai dalam air untuk menghindari terjadinya embolisme atau gelembung udara dalam tangkai bunga.