TEKNOLOGI PRODUKSI TAMAN HORTIKULTURA I
“TANAMAN HIAS UNGGULAN INDONESIA”
KRISAN
OLEH
NISA IRLANDA 1310211181
PROGRAMSTUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
KRISAN
Sejarah
krisan
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni
atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal
dengan Chrysanthenum indicum
(kuning), C. morifolium (ungu &
pink) & C. daisy (bulat, ponpon).
Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, & tahun 797 bunga krisan
dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East.
Tanaman krisan dari Cina & Jepang menyebar ke kawasan Eropa & Perancis
tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan
di Inggris. Jenis atau varietas krisanmodern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan
masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan
secara komersial.
BOTANI KRISAN
a.
TAKSONOMI
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub-Divisio : Magnoliopsida
Kelas : Asterales
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Chrysanthenum
Spesies : Chrysanthemum
morifolium
b.
Morfologi
Tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem
perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah
pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh
agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna
hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras
(berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5
cm.
Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun
dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang, serta termasuk bunga lengkap.
Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga
tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung
terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil).
Krisan sebagai bunga potong, dibudidayakan dengan dua cara
sesuai dengan permintaan pasar yaitu tipe standar dan tipe spray. Tipe standar
(Disbudded inflorescens) hanya memiliki satu tunas bunga yaitu tunas terminal
yang dipelihara pada satu batang. Tunas bunga lateral dibuang sehingga
dihasilkan satu bunga dengan ukuran besar. Tipe spray (Spray inflorescens)
merupakan tipe dengan seluruh tunas bunga lateral dibiarkan berkembang, tetapi
bunga yang pertama berkembang dibuang agar lebih banyak tunas lateral yang
tumbuh dan berukuran kecil. Bunga krisan terdiri dari dari beberapa varietas di
antaranya White Fiji, Yellow Fiji, Holday, Alouis, Astro, Snowdon White,
Cassandra, dan Pingpong. Bunga krisan spray terdiri dari varietas Puma,Yellow
Puma, White Regent, Town talk, Heidi Yellow, Heidi White, Zroland, Pompon,
Soraya, Wendi, Caymano, dan Casablanca
Ciri-ciri morfologi tanaman krisan sebagai berikut:
A.
Batang
Batang tanaman krisan tumbuk tegak, berstruktur lunak dan
berwarna hijau. Bila dibiarkan tumbuh terus, batang menjadi keras (berkayu) dan
berwarna hijau kecokelat-cokelatan.
B.
Akar
Perakaran tanaman krisan dapat menyebar kesemua arah pada
kedalaman 30 cm – 40 cm. Akarnya mudah mengalami kerusakan akibat pengaruh
lingkungan yang kurang baik, hal tersebut dikarenakan akar tanaman krisan berjenis serabut.
C.
Bunga
Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun
dalam tangkai (tandan) berukuran pendek sampai panjang. Bunga krisan
digolongkan dalam dua jenis yaitu jenis spray dan standar. Krisan jenis spray
dalam satu tangkai bunga terdapat 10 sampai 20 kumtum bunga berukuran kecil.
Sedangkan jenis standar pada satu tangkai bunga hanya terdapat satu kuntum
bunga berukuran besar.
Selain itu kalangan
floriskulturis juga membedakan bentuk bunga krisan dalam lima macam
(golongan), yaitu bentuk tunggal, anemone, pompon, dekoratif dan bunga
besar.
Ciri-ciri
kelima bentuk bunga krisan tersebut adalah:
a.
Tunggal
Karakteristik bunga tunggal adalah pada tiap tangkai
terdapat 1 kumtum bunga, piringan dasar bunga sempit, dan susunan mahkota bunga
hanya satu lapis.
b.
Anemone
Bentuk bunga anemone mirip dengan bunga tunggal, tetapi
piringan dasar bunganya lebar dan tebal.
c.
Pompon
Bentuk bunga bulat seperti bola, mahkota bunga menyebar
kesemua arah, dan piringan dasar bunganya tidak tampak.
d.
Dekoratif
Bunga berbentuk bulat seperti pompon, tetapi mahkota
bunganya bertumpuk rapat, ditengah pendek dan bagian tepi memanjang.
e.
Bunga
Besar
Karakteristiknya adalah pada tiap tangkai terdapat satu
kuntum bunga, berukuran besar dengan diameter lebih dari 10 cm. Piringan dasar
tidak tampak, mahkota bunganya memiliki banyak variasi, antara lain melekuk ke
dalam atau ke luar, pipih, panjang, bentuk sendok dan lain-lain.
D. Daun
Daun pada
tanaman krisan merupakan ciri khas dari tanaman ini.Bentuk daun tanaman krisan
yaitu bagian tepi bercelah atau bergerigi, tersusun berselang-seling pada
cabang atau batang.
E. Buah dan Biji
Buah yang dihasilkan dari proses penyerbukan berisi
banyak biji. Biji digunakan untuk
perbanyakan tanaman secara generatif. Biji krisan berukuran kecil dan
berwarna cokelat sampai hitam.
BUDIDAYA TANAMAN KRISAN
Krisan dapat diperbanyak secara vegetatif maupun secara
generatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan stek pucuk,
sedangkan perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji.Stek yang
telah diambil dari tanaman induk terlebih dahulu diakarkan pada tempat
pengakaran dalam kondisi haripanjang (pemberian lampu selama 4 jam pada malam
hari). Setelah 14-20 hari dari tempat pengakaran stek sudah dapat ditanam
diareal tanamatau pot. Untuk membudidayakan krisan potong diperlukan
rumahlindung, berupa rumah plastik yang bertujuan untuk menghindaritanaman dari
curahan hujan secara langsung, yang dapat memicuserangan hama dan penyakit dan
kerusakan fisik oleh air hujan
Selesai
penanaman dilanjutkan dengan penyiraman tanaman,yang disesuaikan dengan kondisi
tanah. Penyiraman harus merata dansampai basah penuh, dilakukan pagi dan sore
hari.
Macam macam budi daya bunga krisan
A.
Stek
Langkah-langkah untuk membuat bibit bunga krisan dari stek
batang, yang pertama adalah mempersiapkan alat dan bahan. Alatnya antara lain:
nampan plasik yang memiliki ukuran 30 x 20 x 3 cm, sekop kecil, pisau tajam/
cutter, sprayer. Bahannya antara lain; tanah, tumbuhan bunga krisan yang telah
dewasa, , hormon perangsang akar (rootone), pupuk kandang, pupuk kompos, dan
air. Langkah kedua adalah membuat media tanamnya. Tanah, pupuk kandang, pupuk
kompos dicampur secara dengan perbandingan 1:1:1 dan diletakkan di nampan lalu
diratakan. Buat lubang di media tanam dengan jarak 2 cm. Semprot dengan air
menggunakan sprayer agar tanah menjadi lembab. Langkah ketiga yaitu memotong
batang bunga krisan dengan ukuran 6-8 cm menggunakan pisau atau cutter yang
tajam, lalu olesi dengan rootone, kemudian tanam ke media tanam yang telah
disiapkan. Bibit yang telah ditanam diletakkan pada tempat yang teduh atau
tidak terkena cahaya matahari langsung.
Media tumbuh perakaran stek.
1. Agar pertumbuhan akar
stek tidak terhambat, pilihlah media untuk perakaran stek yang mempunyai sifat
menahan air yang tinggi, antara lain : arang sekam, sekam, atau pasir.
2. Sterilkan dengan uap panas
800c selama 4 jam dan kering anginkan selama 2 hari.
3. Letakkan media tersebut
pada bak-bak pengakaran yang lebamya 80 cm dan ratakan. Kemudian basahilah
dengan air atau gunakan larutan pestisida dosis rendah untuk mencegah serangan
penyakit pada stek selama proses pengakaran.
4. Ambil pucuk tunas aksiler
dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal serta mempunyai 5 - 7 daun
sempurna. Agar kualitas stek yang dihasilkan terjaga, pengambilan stek
sebaiknya dari tanaman induk untuk produksi stek bukan tanaman produksi bunga.
5. Potonglah tunas tersebut
dengan menggunakan pisau yang steril. Sisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman
induk. Kemudian letakkan pada wadah, semprot dengan larutan fungisida dan
bakterisida. - Celupkan pangkal tangkai stek pucuk tersebut pada zat pengatur
tumbuh, tancapkan pada media pengakaran stek.
6. Setelah +14 hari, cabutlah
stek pucuk tersebut secara perlahan-lahan supaya akar tidak rusak dan stek
pucuk siap ditanam dirumah lindung.
Selama pemeliharaan, penyiraman menggunakan sprayer
dilakukan sebanyak dua kali yaitu siang hari dan sore hari. Dalam 2 minggu,
bibit akan tumbuh secara normal, dan akan mengalami pembungaan sekitar 4 minggu
setelah dewasa. Untuk merangsang pembungaan dapat diberi pupuk yang mengandung
banyak kalium dan juga dapat dirangsang dengan penyinaran rutin pada malam
hari. Setelah bunga mengeluarkan kuncup, bunga krisan dapat dipasarkan.
B. Hidroponik
Teknik hidroponik yaitu suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media
tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan
lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir,
pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.
Dalam hidroponik tidak lagi digunakan tanah, hanya dibutuhkan air yang ditambah
dengan nutrien atau pupuk sebagai sumber makanan bagi tanaman. Media untuk
tanaman hidroponik bermacam-macam, antara lain, arang sekam, pasir, zeolit,
gambut, dan sabut kelapa. Masing-masing medium memiliki kelebihan dan
kekurangan dalam penggunaannya. Irigasi atau pengairan sangat penting dalam
pertumbuhan tanamanam. Secara garis besar, irigasi dalam sistem hidroponik
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sistem air menggenang dan sistem air
mengalir. Dalam sistem air menggenang, air atau larutan yang diberikan
ditampung dalam wadah atau pot sehingga tergenang. Sedangkan pada sistem air
mengalir, air dialirkan terus-menerus sehingga tidak ada yang tergenang.
Sistem penanaman krisan secara hidroponik memiliki banyak keunggulan dibandingkan
dengan sistem penanaman di tanah, antara lain:
(1)
dapat dilakukan pada lahan sempit;
(2)
dapat dilakukan pada berbagai kondisi lahan;
(3)
tanaman lebih jarang terserang hama dan penyakit;
(4)
pertumbuhan tanaman dapat lebih terkontrol;
(5)
hasilnya bersih karena media yang digunakan bukan tanah;
(6)
pemberian pupuk lebih efisien dn menghemat penggunaan tenaga kerja;
(7)
dapat menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi sehingga
nilai jual lebih tinggi.
Hidroponik sangat cocok dikembangkan
untuk tanaman hias, tetaapi hidroponik juga berkembang untuk
tanaman sayuran dan buah-buahan. Jenis bunga yang dapat dibudidayakan
secara hidroponik antara lain krisan, mawar, anggrek berbagai jenis adenium.
BUDIDAYA KRISAN POT
Media Tanam:
Pertimbangan khusus dalam menentukan media tanam
adalah mudah didapat, harga relatif murah, ringan dan harus memiliki
sifat-sifat fisik dan kimia yang bisa mendukung pertumbuhan akar dan serapan
hara secara optimal. Sifat fisik yang penting adalah media harus ringan, gembur
dan memiliki aerasi cukup baik.
Sedangkan sifat kimianya adalah derajat keasaman
media netral dengan pH 5.52-6.7, memiliki Eectric Conductivity (EC) rendah
sehingga tidak ada kekhawatiran keracunan unsur tertentu. Bahan yang banyak
digunakan adalah serbuk sabut kelapa (cocopeat) dan arang sekam. Gambut
memiliki daya pegang air cukup tinggi, dan partikel-partikelnya banyak
membentuk gumpalan-gumpalan kecil sehingga membentuk rongga-rongga udara. Untuk
mengurangi rongga ini perlu ditambahkan bahan lain yang bisa mengisinya seperti
serbuk sabut kelapa dan sekam bakar. Cocopeat memiliki daya pegang air cukup
baik dan tidak membentuk gumpalan antar partikelnya sehingga bisa digunakan
untuk mengisi rongga. Komposisi media yang baik untuk krisan pot adalah
campuran dari gambut (peat), cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan
volume 4:4:1.
Bibit :
Tinggi bibit untuk krisan pot tidak boleh lebih
dari 5 cm. bibit yang terlalu tinggi menyebabkan pertunasan yang kurang kompak,
tunas yang terbentuk berjauhan sehingga bagian bawah tanaman menjadi kurang
rimbun.
Jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot bisa
bervariasi. Untuk ukuran pot 14 -15 cm bisa ditanam 5-6 bibit. Untuk menentukan
jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot juga harus mempertimbangkan
produktivitas tunas dari jenis yang ditanam.Untuk jenis yang hanya mengeluarkan
tunas sedikit, dibutuhkan jumlah bibit agak banyak, sehingga tanaman pot agak
rimbun.
Cara penanamannya satu bibit ditanam cepat
ditengah pot dengan posisi tegak lurus, kemudian bibit lainnya ditanam dibagian
pinggir pot dengan posisi agak condong keluar agar tunas yang dihasikan
menyebar keluar sehingga tanaman pot terlihat lebih besar dan rimbun. Berikut
adalah gambar penempatan bibit krisan pot
Penyiraman :
Penyiraman tanaman pot bisa dilakukan dengan
cara manual atau menggunakan alat bantu sistem irigasi. Beberapa pertimbangan
dalam menentukan pertimbangan adalah frekuensi penyiraman, kualitas air,
penyiraman tidak kena daun, penyiraman dilakukan sekaligus dengan pupuk. Untuk
memenuhi persyaratan penyiraman yang baik, ada beberapa cara yang bisa
dilakukan agar hasil penyiraman lebih efisien.
Sistem rendam. Penyiraman dengan merendam
sebagian pot ke dalam air setinggi 5-10 cm, selama beberapa menit, secara
kapiler air dan pupuk bergerak dari bagian bawah pot ke permukaan atas media,
sistem ini mengandalkan daya kapiler media terhadap air yang akan merambat dari
bawah ke atas. Pada fase colouring (fase terakhir perkembangan tanaman krisan
pot, saat warna bunga mulai muncul) tanaman harus dipindahkan ke tempat khusus
dan sistem pengairannya biasanya menggunakan sistem rendam untuk memudahkan
panen.
Perendaman Tanaman Krisan.:
Sistem drip. Dengan sistem drip (irigasi tetes)
setiap pot disambungkan dengan selang yang mempunyai jarum untuk mengatur
keluarnya air dan sebagai jalan tetesan air ke media. Dengan menggunakan sistem
drip, pemupukan bisa dimasukkan ke dalam alat irigasi. Pupuk yang digunakan
harus yang mudah larut ke dalam air agar lubang drip tidak mudah tersumbat dan
pupuk lebih mudah diserap oleh tanaman. Biasanya pada fase short day krisan pot
dipindahkan ke tempat lain dan sistem pengairannya menggunakan sistem drip.
Pemupukan.:
Pemilihan komposisi pupuk untuk krisan pot
dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya biaya produksi. Contoh pada tabel
adalah komposisi pemupukan krisan pot yang digunakan di PT Kebun Ciputri.
Komposisi Pupuk untuk
Larutan Pekat
|
Jenis pupuk
|
Jumlah (gram)
|
|
|
Stok A (20 liter)
|
||
|
Ca(NO3)2. 4H2O
|
2.880
|
|
|
KNO3
|
1.814
|
|
|
Stok B (20 liter)
|
||
|
KNO3
|
1.476
|
|
|
MnSO4.4H2O
|
5,76
|
|
|
ZnSO4.7H2O
|
0,9288
|
|
|
Borak
|
7,099
|
|
|
Na2MoO4.2H2O
|
0,269
|
|
|
MgSo4.7H2O
|
1.364,6
|
|
|
FeSo4.7H2O
|
85,76
|
|
|
Kristalon hijau
|
1.754,4
|
|
Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999).
Bahan pupuk dapat dibuat dari senyawa kimia
lainnya sesuai dengan ketersediaan bahan dipasar dan juga dari harga yang lebih
ekonomis. Akan tetapi yang terpenting adalah komposisi dari masing-masing
unsurnya.
Pada tabel disajikan pedoman untuk komposisi
unsur pupuk
Komposisi Unsur Pupuk dalam 1 liter Larutan
Pekat
|
Unsur
|
Jumlah (gram)
|
|
K
|
38,86
|
|
N-Nos
|
26,26
|
|
N-NH2
|
1,58
|
|
P
|
3,43
|
|
Ca
|
12,23
|
|
Mg
|
4,08
|
|
Mn
|
0,124
|
|
Zn
|
0,032
|
|
B
|
0,049
|
|
Cu
|
0,0263
|
|
Mo
|
0,0066
|
|
Fe
|
0,489
|
Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari
(1999)
Pengaturan Panjang Hari. Krisan pot memiliki
fisiologi sama dengan krisan potong, yaitu memiliki respon terhadap
fotoperiodisasi. Lama penyinaran yang tepat untuk iklim Indonesia 14-16 jam
sehari, sehingga pada daerah tropis paling tidak tanaman krisan perlu tambahan
cahaya selama dua jam dengan intensitas cahaya minimal 40 lux bila menggunakan
lampu TL dan 70 lux apabila menggunakan lampu pijar. Pemberian cahaya lampu
dilakukan sejak awal tanam sampai tunas lateral yang keluar dari ketiak daun,
tumbuh sepanjang 2-3 cm. Bila tunas yang keluar sudah cukup, maka tanaman akan
masuk fase short day. Supaya bunga mekar secara serempak, ada penanam krisan pot
yang melakukan blackout pada malam hari yaitu menutup tanaman dengan plastik
hitam atau kain hitam sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar sama sekali
tidak mengenai tanaman.
Pinching dan
Disbudding. Pinching adalah membuang pucuk terminal dari bibit asal, hal ini
dilakukan untuk menghentikan dominasi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya
tunas-tunas lateral dari ketiak daun. Dari setiap bibit diharapkan mengeluarkan
tuns lateral sebanyak 3-4 tunas produktif, sedangkan tunas-tunas yang kecil
atau tidak peroduktif harus dibuang, sehingga kualitas tunas yang dipelihara
benar-benar bagus. Pinching (Gambar 5. 4.) dilakukan setelah tanaman memiliki
lima daun sempurna, dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan
kelima, bila daun pertama dihitung dari bawah. Tanaman yang dipinching telah
berumur lebih dari 10-14 hari setelah bibit ditanam. Pinching harus dilakukan
tepat waktu. Apabila terlambat maka internode dari bibit akan terlalu panjang,
akibatnya jarak antar tunas yang akan tumbuh saling berjauhan. Kegiatan
Pinching Disbudding adalah pembuangan bakal bunga yang tidak diinginkan
sesuai dengan tujuan pembentukan bunga. Disbudding dilakukan setelah bakal bunga
yang tidak diharapkan mulai tumbuh dan siap dibuang tanpa mengganggu bakal
bunga yang siap untuk dipelihara.
Pemberian Zat pengatur tumbuh (ZPT)
ZPT digunakan untuk
mengatur pertumbuhan tanaman, merangsang pertumbuhan tanaman atau menekan
pertumbuhan tanaman. Pada krisan pot, pemberian ZPT diupayakan untuk merangsang
pertumbuhan tunas dan daun sehingga membentuk tanaman menjadi tanaman pot yang
kompak, rimbun dan indah. Salah satu ZPT yang biasa digunakan untuk mempercepat
pertunasan adalah Hobsanol. Penyemprotan Hobsanol dilakukan setelah pinching
dan seminggu setelah aplikasi yang pertama. Untuk menekan pertumbuhan agar
krisan pot tidak terlalu tinggi maka digunakan alar atau cultar.
Pencahayaan
Untuk mendapatkan bunga yang diharapkan sesuai dengan waktu
yang dibutuhkan, maka perlu dilakukan penambahan cahaya pada tanaman. Penambahan
cahaya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanamanakan cahaya matahari, untuk
memacu pertumbuhan organ vegetatif.Untuk tujuan bunga potong, maka penambahan
cahaya selama 4 jam sejak tanam, sampai umur 1 bulan. Setelah sebulan
penambahan cahayadihentikan.Teknik meletakan lampuyaitu dengan mengatur setiap
titik lampu 3m dengan asumsi jangkauan setiap titik lampu 1,5m. gunakan
lampu pijar 75 wattatau lampu mengandung ultra violet 15 watt. Pengaturan nyala
lampu untuk penyinaran di malam hari menggunakan timer. Matikan timer setelah
tanaman memasuki vase generatif yaitu pada umur tanaman di lapangan 1 bulan
dengan tinggi tanaman berkisar 35-45 cm. Jikatinggi tanaman belum tercapai
yaitu kurang dari 35-45 cm, maka perlu ditambah waktu penerangan selama 1
minggu.
Hal pentingyang harus dilakukan adalah pemeliharaan tanaman
selama fase siap produksi. Pada fase ini umur tanaman 1 bulan, perlu dilakukan penambahan pupuk. Penambahan pupuk disesuaikan
keadaan tanaman, jika pertumbuhan baik tidak perlu pemupukan, tapi bila
kurang baik disarankan menggunakan pupuk Growmore Pospat tinggi.Jika ada
gulma, maka lakukan penyiangan gulma disekitar tanaman. Setelah umur 60 hari
setelah tanam, harus dilakukan pinching (membuang tunas samping untuk
bunga krisan tujuan standart) dan tipesprey lakukan
toping
(membuang bunga pertama).
Aplikasi Pupuk Susulan
Setelah tanaman memasuki vase generatif, yaitu tanaman
telahberumur 30 hari, maka perlu diaplikasikan pupuk NPK dengan dosis 50gram
per meter persegi, dengan cara pupuk dimasukkan pada larikanantar barisan
tanaman bersih.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Kualitas krisan pot sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman,
sehingga pemeliharaan tanaman mulai dari tanam sampai siap untuk dipasarkan
harus dilakukan secara cermat. Untuk mendapatkan kualitas tanaman pot yang
prima maka pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif.
Adapun hama dan penyakit tanaman yang banyak menyerang krisan pot adalah sama
dengan krisan potong yaitu pengorok daun, thrips, aphids, ulat , dan karat
putih. Untuk dapat menanggulangi hama,
penyakit dan gulma yang mengganggu tanaman, secara garis besar dapat ditempuh
dengan dua cara yaitu: dengan cara preventif dan kuratif.
·
Cara
preventif yaitu tindakan yang dilakukan sebelum tanaman diserang hama, penyakit
dan gulma. Diantaranya yaitudengan :
a) Pengolahan tanah
sempurna
b) Menanam kultivaryang resisten
c) Mendesinfeksi bibit/benih dalam larutan kimia
d) Mengadakan rotasi tanam dan
e) Menanam tepat waktunya
·
Cara
kuratif yaitu dengan cara biologis dan cara kimia.
PEMASARAN
Permintaan akan bunga krisan semakin meningkat, Bunga krisan tidak hanya diminati konsumen local namun juga sangat diminati di manca Negara. Pada umumnya konsumen lebih menyukai warna merah, putih dan kuning, sebagai warna dasar krisan.
Peluang inilah yang seharusnya bisa dimanfaatkan dan dikembangkan. Salah satu
upaya yang tepat untuk mengembangkan bunga krisan adalah dengan system
hidroponik.
Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas,
Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi
(Sumatera Utara).
TAHAPAN PANEN DAN PASCA PANEN
A.
Pemanenan
Pemanenan tanaman krisan pot
tentunya dilakukan bersama-sama dengan medianya. Beberapa faktor yang menjadi
kriteria kualitas tanaman pot adalah sebagai berikut.
1.
Tajuk
Batang tanaman tidak terlalu tinggi,
sekitar 20-25 cm. Bentuk tajuk tumbuh ke samping pot, sehingga bila dilihat
dari bagian atas, tanaman memiliki diameter lebih dari 20 cm; semakin lebar
diameter tajuk dengan batang yang kuat akan semakin baik.
2.
Daun
Warna daun hijau segar dan bersih
dari residu pupuk daun dan pestisida. Bentuk daun normal dan tidak cacat, bebas
dari serangan hama penyakit. Daun tumbuh lebat sehingga terlihat rimbun.
3.
Bunga
Warna bunga cerah dan tidak pudar.
Semua bunga dalam satu pot tumbuh normal dan bebas hama penyakit. Bunga mekar
serempak, kompak, dan tinggi bunga rata.
Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari, di saat
belum terik matahari dan aktivitas asimilasi belum maksimal sehingga saat
tersebut performansi bunga masih segar. Bunga yang dipotong pagi hari biasanya
lebih tahan lama dan mempunyai umur simpan serta kesegaran yang lebih baik.
Dalam keadaan tertentu, panen bunga juga bisa dilakukan pada
sore hari. Akan tetapi bunga yang telah dipotong sebaiknya diperlakukan secara
khusus yaitu Pangkal tangkai bunga harus direndam di dalam air yang dicampur
dengan larutan gula, dengan pH air 3 – 5. 9 Pemanenan umumnya dilakukan secara
manual, dengan bantuan gunting atau pisau tajam. Bila pisau atau gunting untuk
panen bunga tidak tajam, akan mengkibatkan batang yang ditinggalkan memar
sehingga jaringannya rusak dan mudah kena penyakit. Gunting atau pisau yang
tidak steril juga mempunyai efek mengundang penyakit, maka sterilisasi gunting
atau pisau dengan alkohol atau klorin akan lebih baik. Hasil pemanenan bunga
tidak boleh diletakkan langsung di tanah, karena kemungkinan akan
terkontaminasi dengan organisme pengganggu. Umumnya, pemanenan, grading, dan
pengemasan semua dilakukan secara kering, tanpa menggunakan larutan kimia atau
air.
B.
Pengumpulan Bunga yang Telah Dipotong
Bunga krisan yang telah dipotong langsung dikumpulkan di
dalam wadah (tempat bunga) yang sesuai dengan kebutuhan. Tempat bunga tersebut
hendaknya diletakkan di suatu tempat yang teduh dan aman (tidak terkena sinar
matahari langsung), terhindar dari percikan air atau kotoran lainnya, sehingga
bunga terjaga dari kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bunga. Bunga hasil
panen harus langsung ditempatkan ke dalam ember yang sudah berisi air untuk
merendam pangkal tangkai bunga, karena bunga-bunga ini cepat layu bila tidak
segera diberi air setelah dipanen.
C.
Pengangkutan ke Tempat Sortasi
Setelah selesai dikumpulkan, bunga diangkut ke tempat
sortasi untuk disortir dan diseleksi. Pengangkutan bunga harus dilakukan secara
hati-hati dan dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu banyak), sehingga bunga terhindar
dari resiko kerusakan ataupun patah. Di tempat sortasi, bila waktu untuk
melakukan sortir bunga masih lama, sebaiknya pangkal tangkai bunga direndam
dulu di dalam bak/ember berisi air bersih agar bunga tidak cepat layu.
D.
S o r t a s i
Bunga hasil panen diletakkan di atas meja, dipisahkan
menurut verietas. Bunga diperiksa / diteliti satu persatu untuk melihat keadaan
bunganya, tingkat kemekaran bunga, keadaan tangkai bunga yang meliputi panjang-
pendeknya, lurus bengkoknya, besar-kecilnya, dan tegar lemasnya (vigor), berat-ringannya, serta
kebersihan tanaman.
E.
Pengikatan / Pengelompokan Bunga (Bunching)
Pada umumnya bunga yang telah disortir dilakukan pengikatan
/ pengelompokan. Bunga yang telah diseleksi dan ditentukan kriteria
pengkelasannya, diikat dengan menggunakan tali atau karet menurut aturan
jumlahnya. Pengikatan bunga tidak boleh terlalu ketat, karena dapat merusak
tangkai bunga, yang mengakibatkan tangkai bunga dapat tertekan atau luka.
F.
Pembungkusan
Setelah diikat sesuai dengan jumlahnya, bunga harus segera
dibungkus dengan kertas atau plastik pembungkus. Pembungkusan bertujuan untuk
menjaga agar bunga terhindar dari kerusakan sehingga kualitas bunga tetap
terjaga. Bunga potong krisan biasanya dibungkus dengan kertas pembungkus bunga
yang sudah dibentuk (digunting) melengkung pada salah satu sisi panjangnya, dan
dapat membentuk lingkaran yang rata pada sisi bagian atas, sehingga bungkusan
bunga terlihat rapi.
G.
Perendaman dengan Larutan Sebagai Pengawet
Pengawetan bertujuan untuk memperpanjang kesegaran pada
bunga potong. Tanpa pengawetan, kehilangan produksi akibat layu dan faktor
lainnya bisa mencapai 30%-60%. Larutan pengawet berfungsi untuk memperpanjang
umur bunga potong dan mengurangi kerusakan bunga selama penanganan pasca panen,
sehingga nilai ekonominya menjadi lebih tinggi.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengawetan, antara
lain:
1)
Menambah
bahan makanan; seperti glukosa, sukrosa dan galaktosa berfungi untuk membantu
proses pemekaran bunga setelah bunga dipotong. Dosis yang disarankan adalah
1%-12% gula per liter air bersih (10- 120 gram gula dalam setiap 1 liter air
bersih).
2)
Menambah
keasaman air; pada pH 3 - 5 bunga dapat menyerap air secara maksimum. Penyerapan
air sangat penting untuk menggantikan air yang hilang akibat penguapan. Jika
tidak terdapat air maka bunga dan daun akan cepat layu. Untuk keperluan
tersebut, dapat digunakan: asam sitrat dengan konsentrasi 200-600 mg/lt air,
asam benzoat dengan konsentrasi 200-600 mg/lt air. Asam sitrat dan asam benzoat
juga mempunyai sifat antibiotik yang dapat mengurangi perkembangbiakan bakteri.
Reid (1992) juga menyatakan bahwa larutan asam dengan pH 3,5 selain mempercepat
penyerapan juga dapat menghambat tumbuhnya mikroba, sehingga kesegaran bunga
potong dapat dipertahankan.
3)
Menambah
bahan antibiotik, air yang digunakan untuk merendam tanaman biasanya tidak
steril sehingga perlu diberikan antibiotik untuk menghambat perkembangan
mikroorganisme. Mikroorganisme seperti bakteri dan fungi akan menyumbat
jaringan pada batang sehingga air tidak dapat diserap oleh bunga dan
menyebabkan kelayuan. Mikroorganisme juga merupakan salah satu penyebab
timbulnya gas ethylene yang
dapat menyebabkan pelayuan bunga. Bahan-bahan pengawet yang umum digunakan
yaitu Physan-20 (200 ml/liter), AgNO3 (50 mg/liter), Perak tiosulfat
(50-100 mg/liter), dan Sodium hipoklorit (4 ppm).
4)
Menambah
zat pengawet, digunakan pada perlakuan conditioning,
pulsing, pembukaan kuncup dan holding. Secara umum pada jenis bunga
tertentu, semakin lama perlakuan maka konsentrasi yang digunakan lebih rendah.
Oleh
karena itu konsentrasi yang tinggi digunakan untuk pulsing, konsentrasi sedang untuk pembukaan kuncup, dan
konsentrasi yang rendah untuk larutan holding
(Halevy dan Mayak, 1979).
I.
Conditioning : Bunga yang layu (akibat penyimpanan kering) dapat
direhidrasi (diberi air kembali). Caranya dengan memotong pangkal tangkai bunga
sekitar 1-2 cm, kemudian dicelupkan ke dalam air bersih.
II.
Pulsing dan Holding Solution
: Pulsing merupakan perlakuan
dalam jangka waktu yang pendek setelah pemanenan, yaitu proses perendaman dalam
larutan yang mengandung bahan makanan (glukosa atau sukrosa) dalam jumlah yang
tinggi dan antioksidan. Pulsing dapat
memperpanjang umur simpan dan kesegaran bunga potong karena untuk melangsungkan
hidupnya bunga potong membutuhkan energi. Energi yang dibutuhkan dapat
diperoleh dari bahan makanan yang diberikan pada saat pulsing. Sukrosa atau glukosa adalah
bahan utama pada larutan pulsing dengan konsentrasi 1%-12%. Bunga dapat juga
direndam pada periode pendek pada temperatur hangat (kira-kira 10 menit pada
suhu 21°C) atau periode panjang pada temperatur dingin (kira-kira 20 jam pada
2°C). Perendaman dengan larutan nitrat perak (AgNO3) dalam waktu yang singkat
adalah yang paling baik bagi beberapa varietas. Larutan pengawet (holding solution) adalah larutan
tempat dicelupkannya tangkai bunga sampai terjual atau larutan yang digunakan
oleh konsumenuntuk memperpanjang vaselife
bunga. Pada umumnya bahan larutan pengawet merupakan sumber energi,
bahan penurun pH, biosida, senyawa anti ethylene
dan zat pengatur tumbuh. penambahan gula dan asam sitrat berperan dalam
menunda kelayuan. Asam sitrat sering digunakan pada larutan holding dengan konsentrasi 50-800
ppm. Penggunaan gula pada larutan pulsing
dan holding akan rawan
terhadap serangan mikroorganisme karena merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, pada larutan holding dan pulsing sering ditambahkan biosida untuk membunuh dan
menghalangi perkembangan bakteri dan jamur.
III.
Pembukaan
Kuncup : Kemekaran kuncup bunga potong krisan dapat dipercepat dengan
menggunakan larutan yang mengandung bahan biosida dan gula. Proses ini akan
semakin cepat bila didukung dengan kondisi yang memadai yaitu: suhu yang hangat
antara 21 - 27°C, kelembaban 60-80% RH, dan intensitas cahaya yang tinggi yakni
100-200 footcandles.
IV.
Pewarnaan
Buatan : Bunga yang berwarna putih dapat dibuat warna warni dengan memberikan
pewarna pada bunga. Pewarnaan dilakukan dengan merendam tangkai bunga ke dalam
larutan pewarna.
Pewarna
yang digunakan adalah pewarna makanan berupa bubuk atau cairan. Cara pembuatan
larutan pewarna yaitu:
1)
Siapkan pewarna makanan 4 gram, gula 60 gram, dan asam sitrat1 gram,
2)
Larutkan pewarna, gula dan asam sitrat dengan air matang / aquades, tepatkan
menjadi 1 liter,
4)
Aduk larutan sampai semua pewarna, gula dan asam sitrat larut,
5)
Larutan pewarna siap digunakan.
H.
Penyimpanan
Penyimpanan dikelompokkan menurut tujuan atau perlakuannya.
Penyimpanan menurut tujuannya dibedakan dalam dua kategori menurut lamanya
waktu penyimpanan, yaitu penyimpanan sementara dan penyimpanan untuk persediaan
(stok). Sedangkan penyimpanan menurut perlakuannya dibedakan dalam dua
kategori, yaitu penyimpanan basah dan penyimpanan kering. Penyimpanan sementara
dilakukan untuk penyimpanan bunga dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1
hari) bunga bisa disimpan pada suhu ruang dengan merendam pangkal tangkainya di
dalam bak berisi air bersih. Penyimpanan untuk persediaan (stok) dilakukan bila
bunga disimpan untuk jangka waktu yang agak lama. Untuk penyimpanan kering,
bunga harus disimpan di dalam ruang penyimpanan berpendingin (cold storage) dengan temperatur
sekitar 2-10°C dan kelembaban udara tinggi sekitar 90%. Lamanya masa
penyimpanan bunga dalam cold storage tergantung
dari varietas dan tingkat kemekaran bunga. Pada keadaan kuncup dapat disimpan
sampai 15 hari dengan suhu 2-4oC, dan sebelumnya mendapatkan perlakuan larutan
pembukaan kuncup. Apabila bunga disimpan terlalu lama, maka bunga akan
mengalami kerusakan yang dapat dilihat dari perubahan fisik bunga tersebut
berupa layu, lembek, busuk dan warna bunga yang pudar. Penyimpanan basah adalah
penyimpanan dengan perlakuan perendaman ujung tangkai bunga ke dalam air,
dengan harapan bunga akan terus mendapat suplai air untuk memperpanjang umur
simpan dan kesegaran. Penyimpanan basah harus dilakukan bila kelembaban udara
di lingkungan penyimpanan rendah. Dengan kelembaban udara yang rendah akan
banyak terjadi transpirasi atau penguapan air dari bunga yang telah dipotong,
akibatnya bunga akan cepat layu. Dengan demikian harus diupayakan kesediaan air
dalam wadah tersebut.
I.
Fumigasi
Fumigasi merupakan perlakuan dengan memberikan gas beracun
untuk membunuh hama atau serangga pengganggu. Dalam penanganan pasca panen
bunga, fumigasi dilakukan apabila di dalam bunga yang akan dikirim masih
terdapat hama yang sulit dihilangkan dengan penyemprotan biasa, tapi hama
tersebut belum menimbulkan kerusakan pada bunga. Fumigasi hanya dilakukan
apabila bunga tersebut akan diekspor, dan negara tujuan ekspor mengharuskan
perlakuan fumigasi ini. Kerugian dari umigasi adalah dapat menurunkan umur
simpan dan kesegaran bunga yang difumigasi.
J.
Penanganan Eceran
Untuk menjamin kualitas yang maksimum dan menarik minat
pembeli, yang terpenting adalah penanganan bunga yang tepat pada saat diterima.
Setelah bunga tiba, bunga dipotong pada pangkal batang ± 2 cm dan kemudian
bunga ditempatkan segera pada ruang pendingin setelah bungkus dibuka untuk
beberapa jam. Jika bunga bersisa di toko beberapa hari, bunga tersebut
diletakkan pada ember berisi air dan bahan pengawet.
K.
Pengiriman
Bunga yang sudah dibungkus disusun dengan teratur, dan
dilakukan secara hati-hati, dimana isi bunga dalam satu kardus atau kontainer
tersebut tidak boleh terlalu padat (sesuai dengan kapasitas kardus tersebut),
sehingga bunga dapat tersusun rapi dan terjaga kualitasnya. Biasanya dalam satu
kardus berukuran 88 x 40 x 40 cm dapat diisi dengan 30-35 bungkus krisan,
dimana isi per bungkus 10 tangkai. Pada bidang-bidang yang berukuran 40 x 40 cm
diberi lubang-lubang, sebagai tempat pegangan tangan dan juga untuk ventilasi
udara di dalam kardus.
Setelah bunga selesai dimasukkan ke dalam kardus, kardus
harus ditutup dan dikuatkan dengan menggunakan lakban sampai kardus menjadi
rapi. Namun bila menggunakan kontainer plastik, setelah bunga tersusun penuh
cukup ditutup dengan kertas koran agar bunga tidak rusak, bila kontainer
diletakkan bertumpuk. Kemudian kardus atau kontainer bunga disusun secara rapi
(tiga tingkat), sebelum bunga dimasukkan ke dalam mobil pengangkut. Kardus atau
kontainer yang berisi bunga disusun secara rapi di dalam mobil boks
berpendingin, sehingga dapat diisi secara maksimal sesuai dengan kapasitas
mobil tersebut. Pengiriman bunga ke tempat penjualan dilakukan dengan
menggunakan mobil boks berpendingin yang mempunyai pengaturan temperatur.
Selama perjalanan, temperatur di dalam mobil boks diusahakan rendah dan stabil
pada temperatur sekitar 2-10°C, sehingga kesegaran bunga tetap terjaga dan
bunga diterima konsumen dalam keadaan baik.
Setelah sampai di tempat tujuan, kardus atau kontainer
plastik tempat bunga diturunkan dari mobil dengan hati-hati agar bunga tidak terkoyak
atau rusak. Kemudian kardus atau kontainer bunga diturunkan, bunga dikeluarkan,
ujung tangkai bunga dipotong dan dicelupkan sebentar ke ember berisi air
hangat, dengan suhu sekitar 30-350 C selama 10 detik, dengan tujuan
untuk membuka pori-pori permukaan tangkai bunga, selanjutnya direndam ke dalam
air bersih.
Setelah bunga sampai pada pedagang retail atau pedagang penjual,
sebelum bunga di pajang konsumen dirumah, segerah setelah bunga tiba di kios
atau tempat penjualan bunga-bunga ini dilepas darikemasannya, kemudian periksa
dari hama dan penyakit serta kerusakan fisik. Bunga yang baik selanjutnya
potong sedikit tangkai bunganya dandirendam dalam air hangat sekitar 380C yang agak asam dengan pH 3.0-4.0 untuk
beberapa menit. Akan lebih baik pemotongan tangkai dalam air untuk menghindari
terjadinya embolisme atau gelembung udara dalam tangkai bunga.